Batik Pacitan

Batik adalah warisan budaya Indonesia yang dilestarikan secara turun temurun.  Bahkan sudah disepakati sebagai World Heritage. Secara historis batik mulai dikenal pada abad XVII yang dilukis di daun lontar.


Pacitan sebagai daerah yang sangat kental dengan seni dan budaya juga tidak ketinggalan dalam mengembangkan batik sebagai saah satu warisan budaya nenek moyang.  Salah satu daerah penghasil batik terbesar di Pacitan adalah dusun Lorok Kecamatan Ngadirojo, Pacitan terdiri sekitar 134 pengusaha batik baikkecil maupun besar. Sehingga batik yang terkenal dari Pacitan disebut sebagai batik lorok. Selain batik lorok, Industri Kerajinan Batik Tulis Tengah Sawah di Desa Wiyoro Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan, merupakan satu  unggulan dari sekian banyak industri kerajinan batik tulis yang ada di Kabupaten Pacitan. Dan sekarang sudah mulai bermunculan pengusaha batik dengan cirri khas masing – masing. Antara lain batik Puri.

 

Batik Puri mencuri perhatian masyarakat baik di Pacitan sendiri maupun sampai di daerah lain dan Negara lain. Hal ini terutama karena desain- desain alam yang selalu baru dan dibuat dalam limited edition. Sehingga pemakai batik merasa sebagai seseorang yang special. Salah satu desain yang kemudian sangat terkenal disebut dengan nama serumpun padi merupakan batik yang secara khusus dipesan oleh Presiden SBY dalam kunjungannya ke Pacitan.

           Dengan semakin terkenalnya produk Batik Puri maka pesanan atau ordersemakin meningkat bahkan sampai ke luar daerah dan luar negeri. Meskipun media pemasaran dalam negeri maupun eksport masih sangat sederhana yaitu dengan melalui Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan sebagainya. Metode pemasaran lain yang dikenal cukup efektif dalam menjaring costumer adalah dengan mengikuti pameran – pameran baik khususnya dalam negeri. Saat ini pasar nsional batik Puri mencapai Kalimantan, Sumatera dan juga Sulawesi. 

          Satu hal yang sangat menarik bagi batik Puri adalah konsep pemberdayaan  yang selalui dikedepankan. Sampai saat ini Batik Puri menolak untuk menggunakan tehnik batik Printing dan cap yang karena proses produksinya lebih cepat  sehingga harganya lebih murah, kan mampu menarik pembeli.  Alasan pertama penolakan metode ini adalah pada penjagaan kualitas batik, dan yang kedua adalah pemberdayaan  bagi warga sekitar khususnya ibu – ibu yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Dengan konsep batik tulis ini maka banyak pengangguran yang bias terserap. Konsep ini yang menyebabkan berkembangnya koperasi batik Puri dengan anggota pekerja di usaha batik Puri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERINDUSTRIAN

wisata di pacitan